Bonceng di Motor Sport Fairing Tanpa Behel
Jok mungil cuma muat untuk satu pantat sedangkan manusia pantatnya dua. Belum lagi yang posisinya tinggi dan nungging. Itulah masalah pada pembonceng motor sport fairing yang sebenarnya itu bukan masalah. Cuma tidak tahu diri saja, bahwa motor sport fairing ini tidak untuk berboncengan (solo). Yah.. tetap maksa bonceng, perhatikan pembonceng berikut:
Kebanyakan orang menghinanya karena tidak paham akan cara penggunaannya. Hanya sebatas melihat, mencoba, lalu menghujatnya hanya karena tidak seperti yang mereka inginkan. Dia pikir semua insinyur dan desainer motor sepemikiran dengan dia. Inilah yang terjadi pada motor Suzuki GSX 150 dengan desain sport yang sempurna lalu dicampakan! Mereka mengatakannya dengan jok yang tidak manusiawi.
Perhatikan gambar berikut:
Posisinya yang tinggi membuat pembonceng dapat melihat jalan di depan. Ini memungkinkan gerakan yang sinkron antar pembonceng dan rider. Sehingga tidak kaget jika ada sesuatu yang membuat rider melakukan gerakan yang mendadak, seperti pengereman, atau cornering. Kepala rider dan pembonceng memiliki jarak sehingga tidak berbenturan.
Pegangan jok (behel) digantikan dengan pundak rider, yang memiliki fungsi yang sama dengan stang. Tapi bagi pembonceng hanya untuk berpegangan, bukan menyetir.
Sedangkan pegangan untuk kaki pembonceng adalah peg dan paha atau pinggul rider yang fungsinya sama seperti tangki yang diapit oleh rider.
Kemudian, keduanya memiliki tumpuan yang sama, yaitu di pantat dan kaki
Jadi konsepnya mirip seperti sepeda tandem (gandeng), keduanya menjadi rider tapi pembonceng tidak melakukan stir.
Post a Comment